Minggu, 05 Februari 2012

Di Balik Kisah Maulid Nabi

*
SEJAK pagi anak-anak sudah rapi berbusana muslim. Bunda mereka telah menyiapkan makanan untuk jamuan di sekolah. Ada masakan nasi kuning, nasi goreng lauk bregedel, jajanan tahu isi, kue serabi, dan lain-lain. Sabtu, anak-anak sekolah dasar itu, seperti diberitahukan kemarin Jumat, akan memperingati Maulid Nabi yang jatuh pada 12 Robi'ul Awwal 1433 Hijriyah bertepatan dengan hari Minggu, 5 Februari besok. Dengan ceria mereka pergi ke sekolah meskipun mendung sedikit menutupi sinar matahari, hujan rintik menimpa payung para pengantar atau kap beca yang ditumpangi anak-anak.
Pukul 06:30 lonceng sekolah berbunyi. Anak-anak berhamburan ke halaman depan kelas masing-masing, lalu berbaris. Setelah menerima pesan dari tiap guru kelas, anak-anak segera bubar barisan menuju aula. Acara pun dimulai. Lantunan ayat suci menggema. Sambutan demi sambutan telah menyela. Dan tibalah saatnya pak ustadz tampil memberikan hidangan rohani. Pesan maulid disajikan penuh semangat, dengan riang anak-anak menyimak. Seperti biasa, agar menarik perhatian para siswa, ceramah dibawakan ala komedian. Usai acara inti, anak-anak dan para guru beramah-tamah. Dus kue dan minuman gelas dibagi. Tak lupa doa membuka hidangan sarapan pagi.
Siang, setiba di rumah, setelah uluk salam, anak-anak mulai bercerita penuh canda ceria kepada anggota keluarga. Bunda, tante, dan kakak turut mendengar.
"Bagaimana acaranya tadi, Nak?"
"Meriah sekali, Bunda. Ceramahnya lucu, ha ha ha ... hi hi hi ... pak ustaz menari-nari kayak Ayu Ting Ting."
Hmmm, kakak menimpali. "Kamu jadi ingat komedian pak ustadz atau pengetahuan yang disampaikan beliau?"
"Dua-duanya, Kak!" Tak lama kemudian anak-anak menahan tawa, masih terkesan gerakan dan kata-kata lucu pak ustadz.
"Nak, ke mari. Pak ustadz bercerita tentang apa?" tanya bunda.
"Peringatan atas kehadiran Nabi Besar Muhammad Rosululloh s.a.w." Sepatu, tas, dan baju hampir selesai ditanggalkan anak-anak dan diletakkan di tempat biasanya.
"Oh, begitu. Lalu, pelajaran apa yang harus kau teladani dari Rosululloh?"
"Pak ustad mengatakan, murid-murid harus hormat kepada orangtua, ibu. Katanya, di telapak kaki ibu ada surga." Anak-anak menjawab dengan datar, matanya melihat-lihat ke atas, kanan, kiri.
"Bagus."
"Nabi Muhammad diutus Alloh s.w.t. untuk menerangi dunia dengan mu'jijat Al-Qur'an, membawa hati orang-orang yang telah beriman kepada Alloh ke tempat yang terang-benderang," jelas tante setelah duduk mendekati anak-anak.
"Ah, iya, betul tante, kayaknya pak ustadz juga menerangkan seperti itu," sahut anak-anak.
Lagi-lagi, suara anak-anak meriuh, tergelak-gelak menirukan kelucuan pak ustazd. Hanya saja, gerakan mereka semakin liar, menambahkan dengan ayunan pantat dan memutar-mutar tangan di atas kepala.
"Oh, ... tidak ...!" Pekik bunda dalam hati. Dipandanginya anak-anak yang makin menjauh ke luar ruang tamu, ke beranda lalu bermain dengan teman-teman mereka. Bunda mengernyitkan dahi. Meneguk segelas air putih.
Anak-anak ini ternyata paling mudah teringat dan memperagakan kembali apa yang baru saja membuatnya tertarik, apapun ditirukan asal bisa menyenangkan. Begitu pikir bunda.
Mungkin masih lumrah, jika anak-anak masih suka bercerita apa saja yang sedang terhubung dengan ingatan, keceriaan, mempengaruhi gaya atau cara bermain mereka. Kenyataan di masyarakat sekitar kita, sudah terbiasa lebih dahulu mengabarkan tentang banyolan ustadz atau ustadzah daripada membahas intisari materi pembinaan yang disampaikan penceramah atau pemateri diskusi.
Seyogyanya, pesan bunda ke bunda, ceramah terbuka walaupun ditujukan bagi kalangan bawah sekalipun, tidak perlu membesarkan porsi relaksasi dengan pilihan (kemutlakan semu, menggunakan) pendekatan teknik komedian secara berlebihan.
Sudah saatnya, para penuntun ummat yang juga menyajikan seberkas tontonan tidak lagi menganggap bahwa hanya lawakan hedonis menuai ketawa ala pingkal, gerak anatomis tubuh naif-konyol, atau retorika jenaka rendahan menjadi alat atau sisipan metode yang menjamin pembelajaran efektif bagi masyarakat umum.
Para bunda teringat laporan televisi tempo hari. "... hentikan dakwah ala pelawak pengocak keimanan! ... hentikan kekhawatiran terhadap sikap bodoh masyarakat yang baru bisa menerima manfaat tuntunan akhlaq jika sistim pendidikan dan teknik belajar-mengajar memakai metode ceramah dengan sajian komedian lebay-congok!" Koar mahasiswa pendemo, berbekal lafadz frase berkabung dalam gaya ceriwis.
*
Pembodohan ummat semakin meluas, bisa terjadi tanpa kesengajaan. Bagaimana pun proses makin terpuruknya sikap mental sebagian besar anggota masyarakat bisa terjadi sejak dipicu oleh kemasan tuntunan yang mengusung model tontonan. Tidak cukup hanya menaruh curiga, arena hiburan kian menambah jam layanan, sementara masyarakat berkantong cukup tebal agak boros menukar waktu dengan belanja jasa komedian dan program relaksasi. Anggaran dana pendidikan keluarga direvisi, alokasi belanja ria meningkat makin tinggi. Rekreasi, yang belum tentu mendorong aksi produktivitas, harus terbeli agar senang tanpa depresi.
Sengaja atau tidak, di media komunikasi dan panggung hiburan 'dalam ruang' selalu tampil gencar, terus-terusan digeber ceramah komedian sejak menjelang sholat subuh hingga program perenungan tengah malam. Sepertinya, hiburan lebih dibutuhkan oleh masyarakat di era informasi daripada upaya meningkatkan pendidikan jatidiri dan kesejahteraan ruhani-jasmani bangsa.
Ummat di arus bawah bersikap menarik diri (represif), sudah kadung apatis, seakan kehilangan tokoh panutan (public figure). Sehingga peristiwa ketawa dan relaksasi jadi menu yang diburu. Secara sistemik keadaan telah diubah, berangsur-angsur mempengaruhi perilaku kita dalam hidup bermasyarakat.
Ketika meletus kasus pelecehan harga-diri bangsa, sebagian tokoh masyarakat dan praktisi pendidikan mudah menuduhkan, bahwa beban kesalahan menjadi tanggung-jawab pimpinan masyarakat dan lembaga, dosen, guru, ustadz / ustadzah, atau mahasiswa. Namun, berapa dari para jawara pendidikan nasional yang peduli pada akar-penyebab: mengapa (?) masyarakat kita sebagian besar mudah dibodohi, ditelikung, dan dihasut oleh anda, saudara sebangsa, maupun ahli / investor asing berkedok program social education yang marak diemban oleh segelintir lembaga swadaya masyarakat (lsm) abal-abal.
Ironisnya, tempat menempa keterampilan hidup (live skill) ummat di lingkungan sosial keagamaan menjadi kian langka peserta. Jika pun masih banyak kegiatan berlangsung besar-besaran, itu karena motivasi atas keyakinan dan sikap moralitas yang kaku (rigid) dengan beban formalitas berkeagamaan.
*
"... ha ha ha ha ... hi hi hi hi ... ustadz kami tetap lucu dan jenaka." Kesan anak-anak ex sekolah dasar. "Ketika aku besar nanti, mungkin masih melihat sisa warisan gaya komedian beliau."
"Emoh! Aku malu dan direndahkan bila menuntun diri sendiri dengan gaya kocak-konyol!" Sergah anak-anak lain bunda.
"Yaahhh ... kadang boleh melucu, kadang boleh sedikit bergaya bijak agar ceramah jadi tontonan agak bermutu." Sahut anak-anak yang sok moderat.
Waktu berlalu, melompat lurus dari prosesi 'mulutan' ke 'mulutan' berabad-abad. Para bunda sudah beranjak tua. Penampang wajah nampak kerutan menghitam, bukan sedang memakai topeng untuk action peran nenek-nenek bestari. Harum surga dari meta-aura telapak kaki beberapa bunda menghimbau bocahzaman.
"Semasa kalian tertawa hingga terjungkal dengan perut kaku kegelian, saat itu semua lupa bahwa pak ustadz sedang mengidap penyakit modern semacam kelatahan, moral depresi akut, ataukah pijitan waham ekspresi-schizofrenia." Duga para bunda, memperingatkan.
"Semoga lekas sembuh." Doa kita bersama-sama, tak sampai mengunjukkan rasa belasungkawa.
"Justru harus tetap hikmat meski kita butuh tertawa lirih, agar kalian resapi pesan pak ustadz yang terlanjur sekedar meluncurkan kalimat amanah tentang nur kehadiran para nabi dan rosul. Nur kerahmatan dan kenikmatan syukur bagi seluruh alam semesta raya." Usul bunda tak hendak berceramah.
"Allohumma amiiin ...," seru pembaca. Hampir latah, seraya mengulang bacaan di atas yang mungkin perlu revisi agar para ustadz tidak ragu bersikap: prihatin atau menertawakan keadaan.

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Updates Via E-Mail