Tampilkan postingan dengan label Pesawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesawat. Tampilkan semua postingan
Kamis, 14 Juni 2012

Boeing 747-8i Sudah Boleh Facebookan dan Tweeteran diatas Udara

Semakin majunya jaman, semakin kita terbiasa dengan saluran komunikasi abad 21, terutama dengan perkembangan abad digital sekarang ini. Salah satu contoh yang paling jelas adalah WiFi diatas udara. Ya! WiFi dalam pesawat sekarang telah menjadi kenyataan dan sekarang bahkan tersedia di perjalanan jarak jauh, memungkinkan bagi penumpang trans-Atlantic untuk mengupdate status Facebook atau tweet pemikiran terbaru melalui jarak jauh diatas lautan. Walaupun WiFi di udara belum begitu umum, tetapi hal ini telah menjadi salah satu daya tarik bagi perusahaan penerbangan dan penerbangan jarak jauh, dimana hiburan yang tersedia tidaklah cukup untuk memuaskan pelanggannya. Bisa dikatakan bahwa WiFi sangatlah penting untuk pebisnis yang tergantung kepada saluran komunikasi instan; email dan media sosial.

Jadi bagaimana cara kerja WiFi di pesawat? Sebenarnya prinsipnya tidaklah berbeda dengan teknologi WiFi di restoran, toko buku ataupun tempat umum lainnya, dengan komponen utama berupa: alat penangkap sinyal WiFi (laptop, iPhone, Blackberry). WiFi di pesawat udara bekerja dengan network di access point – koneksi data tanpa kabel dari satelit dan perusahaan penyedia Internet di daratan. Perusahaan elektronik seperti Panasonic, Ericsson dan lainnya, juga manufaktur komponen seperti Panduit , Molex dan lainnya, secara konstan semakin mengembangkan teknologi terbarunya. Walaupun elemen dari gadget penangkap sinyal WiFi seperti connectors dan capacitors, tidak berubah, tetapi produk final dari gadget tersebut semakin revolusioner baik dalam bentuk maupun fungsi.

Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan penerbangan asal Jerman, Lufthansa memperkenalkan teknologi WiFi dan FlyNet, di pesawat terbaru mereka, Boeing 747-8i. Hal ini dimanfaatkan oleh penumpang untuk mentweet “I'm in the air” selama penerbangan. Tentu saja teknologi ini dijalankan dengan inspeksi ketat dari teknisi pesawat; melalui satelit parabola kecil yang terletak diatas badan pesawat. Terimakasih kepada alat ini, internet dan siaran langsung satelit televisi sekarang memungkinkan untuk dinikmati di penerbangan.

Sekarang tinggal menunggu waktu untuk teknologi WiFi menjadi standar pelayanan penerbangan – bahkan untuk perjalanan jarak pendek sekalipun!
Minggu, 13 Mei 2012

Kronologi Pembuatan Pesawat Sukhoi Superjet 100


Moskow (ANTARA/RIA Novosti-OANA) - Sukhoi Superjet 100 merupakan pesawat penumpang untuk jarak tempuh menengah yang dirancang sejak tahun 2000.
Superjet 100 menjadi pesawat penumpang pertama sejak keruntuhan Uni Soviet dan juga merupakan pesawat sipil pertama buatan Sukhoi yang terkenal dengan jet tempurnya.
Biro rancang pesawat itu bermitra dengan berbagai pihak asing dalam pengembangan Superjet 100, termasuk Boeing, dimana sejumlah ahlinya turut serta dalam merancang pesawat tersebut.
Sejumlah pihak asing yang juga mengerjakan Superjet 100 diantaranya adalah perusahaan asal Italia, Finnmeccanica, yang menjadi investor terbesar, perusahaan asal Prancis Snecma untuk mesin dan perusahaan Thales untuk perangkat avionik.
Selain itu firma asal Jerman Liebherr juga turut dalam pengerjaan sistem pengendalian dan sistem penunjang kehidupan pesawat Superjet 100.
Program pesawat ini sempat tertinggal karena penundaan pengembangan mesin serta sertifikasi.
Superjet 100 melakukan terbang perdananya pada 2008 dan mendapat sertifikasi untuk beroperasi di Rusia pada 2011 dan di Uni Eropa pada Februari 2012.
Mesin ganda Superjet 100 --yang bisa memuat 100 penumpang-- memiliki kecepatan jelajah 828 kilometer per jam dengan jarak jelajah maksimum antara 3.000 hingga 4.500 kilometer dengan muatan penuh, tergantung kapasitas tempat duduk.
Pesawat tersebut dibuat dengan tujuan untuk menggantikan pesawat Tupolev Tu-134 dan Yakovlev Yak-42 dan bersaing dengan pesawat penumpang dari perusahaan asal Brazil, Embraer E-Jets dan perusahaan asal Kanada, Bombardier CRJ dengan menawarkan alternatif yang lebih murah dari keduanya sebanyak 35 juta dolar AS per unit.
Pesawat tersebut terjual secara lambat namun berkesinambungan di pasar yang amat berkompetisi, dimana Maskapai Aeroflot asal Rusia mengoperasikan sebanyak tujuh unit dan maskapai asal Armenia, Armavia sebanyak satu unit.
Menurut kabar tidak ada satu pun maskapai yang menghentikan pengoperasian Sukhoi Superjet 100 pasca terjadinya kecelakaan pesawat sejenis di Indonesia pada Rabu.
Sebelum kecelakaan terjadi, Sukhoi mendapat pesanan Superjet 100 sebanyak 100 unit termasuk dari maskapai Rusia Transaero.
Hingga berita diturunkan masih belum ada keterangan apakah sejumlah konsumen berniat menarik pesanan mereka.(rr)

Sumber : http://id.berita.yahoo.com/sejarah-pembuatan-sukhoi-superjet-100-003812710.html
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Updates Via E-Mail