Kamis, 21 Maret 2013

Perspektif Interaksionis

http://www.nctc.edu/Libraries/Home_Page/Psych_head.sflb.ashx
Pendekatan interaksionis yang dianut oleh Berger adalah pendekatan dimana memandang masyarakat sebagai realitas obyektif dan realitas subyektif atau pendekatan yang menjembatani antara makro dan mikro, pendekatan yang menjembatani pendekatan organis yang dianut Emile Durkheim dan pendekatan individualistik yang dianut Max Weber. Pendekatan ini menegaskan bahwa realitas kehidupan sehari-hari pasti memiliki dimensi-dimensi obyektif dan subyektif. Masyarakat lewat norma-norma, aturan-aturan atau yang disebut dengan fakta sosial itu mengatur tiap-tiap individu untuk tetap teratur dan disiplin untuk bertingkah laku sesuai dengan fakta sosial yang ada di masyarakat tersebut. Masyarakat disini membentuk individu-individu itu sendiri. Sejak masa kecil, individu-individu ini mengalami proses internalisasi atau sosialisasi yang membuat individu-individu ini menjadi anggota dari suatu masyarakat tertentu. Individu-individu ini diperkenalkan dengan nilia-nilai dan norma-norma yang ada dari masyarakat tersebut dari orang tuanya atau dari orang yang intensif bertemu dengannya atau orang-orang yang berpengaruh dalam dunia sosial obyektif itu yang bertanggung jawab atas proses sosialisasi kepada anak tersebut. Nilai-nilai dan norma-norma yang berasal dari orang lain itu ditangkap atau ditafsirkan oleh si anak sebagai realitas obyektif yaitu sebagai suatu tingkah laku yang harus dan yang baik dilakukan dalam suatu masyarakat tersebut. Individu-individu ini tenggelam dalam kenyataan masyarakat sehingga dia harus melakukan apapun sesuai dengan aturan masyarakat itu. Masyarakat disini juga sebagai tertib dari tindakan individu ini, bahwa keteraturan harus ada dalam diri tiap individu untuk masyarakat yang telah terinstitusionalisasi.
Akan tetapi, manusia tidak seluruhnya ditentukan oleh lingkungan dalam masyarakat. Masyarakat bukan hasil akhir, tetapi masyarakat itu adalah sebuah proses dalam kehidupan sosial. Pada dasarnya , manusia memiliki kehendak bebas atas dirinya sendiri, memiliki ego masing-masing yang berbeda dari satu sama lain. Manusia tidak sama seperti robot, yang akan terus menurut dan tunduk apabila diberi perintah. Oleh karena itu, proses sosialisasi bukan menjadi keberhasilan tuntas dalam kehidupan manusia. Akan sering dijumpai bahwa proses sosialisasi itu tidak berjalan dengan lancar. Akan ada beberapa individu yang mengalami proses sosialisasi yang tidak sempurna, karena individu itu merasa tidak cocok dengan nilai-nila dan norma-norma di masyarakat itu. Individu memiliki pilihanya sendiri. Sama seperti orang tidak akan menggunakan lagi shampo bermerk A, karena dia merasa tidak cocok dengan shampo bermerk A tersebut, sebab jika memakai merk A tersebut membuat kepalanya gatal, oleh karena itu dia berganti merk shampo B, karena dia cocok dengan shampo itu dan sesuai dengan pengharapan dirinya sendiri. .Individu-individu yang mengalami proses sosialisasi tidak sempurna itu bergabung dan secara bersama-sama mereka membentuk suatu realitas baru yang mereka anggap pas atau cocok bagi diri mereka. Mereka mengadakan persetujuan kontraktual atas pilihan mereka yang mereka anggap sesuai dengan diri mereka, sehingga mereka membentuk dunia sosial mereka sendiri. Atas kejadian ini, mengakibatkan terjadinya perubahan aturan sosial didalam masyarakat Aturan-aturan baru itu melanda si penciptanya dan dapat juga melanda generasi-generasi berikutnya, yang mempegaruhi kehidupan dalam masyarakat itu kembali. Individu-individu menjadi hal yang penting dalam mempengaruhi aturan -aturan sosial yang ada dalam masyarakat. Dengan hal ini dapat dikatakan bahwa masyarakat adalah produk dari manusia atau para individu-individu.
Masyarakat tidak bisa memungkiri bahwa individu juga yang membentuk masyarakat itu, membentuk dan mengubah sedemikian rupa yang sesuai dengan keinginan mereka atau kecocokan mereka. Lewat masukan-masukan dari individu-individu inilah masyarakat dapat berkembang atau bertambah maju, menjadi masyarakat yang lebih baik atau lebih cocok dari sebelumya. Masyarakat didorong individu untuk menjadi lebih baik. Dapat dimungkinkan lagi bahwa perubahan itu akan terjadi lagi kepada masyarakat dari individu dan mempengaruhi individu itu sendiri lagi. Hal ini menjadi seperti siklus dan hubungan timbal balik antara masyarakat dan individu dalam kehidupan sosial, masyarakat mempengaruhi individu dan individu juga mempengaruhi masyarakat. Menurut saya, dengan kata lain bahwa pendekatan interaksionis adalah perspektif yang menekankan masyarakat merupakan bentuk atau produk dari manusia dan manusia dibentuk bukan hanya dari masyarakat saja tapi juga dari kesadaraannya untuk mencoba mengubah masyarakat itu.

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Updates Via E-Mail